Dibangun Selama 10 Tahun, Telan Dana Rp20 Miliar
Penantian panjang selama sepuluh tahun umat Paroki Katedral Tiga Raja, khususnya 2000 umat Kuasi Santa Sisilia SP 2 akan sebuah gedung gereja yang megah segera terwujud. Gereja model bulat dengan atap menyerupai topi romawi atau honai rumah adat Wamena, Papua ini segera diresmikan pada 22 November oleh Mgr Jhon Philips Saklil Pr Uskup Keuskupan Timika.
Foto: Antonius Djuma/TimeX
MEGAH – Bangunan Gereja Kuasi Santa Sisilia SP 2 berdiri kokoh dan megah siap diresmikan, Senin (12/11).
Gedung Gereja Kuasi Santa Sisilia SP 2 Rampung 99 Persen
PROGRES pembangunan gedung Gereja Kuasi Santa Sisilia SP 2 sudah rampung hampir 99 persen. Bangunan gereja dengan model bulat dengan atap menyerupai topi romawi atau honai rumah adat Wamena Papua ini dengan lama masa pengerjaan selama sepuluh tahun. Gereja megah ini dibangun di atas lahan seluas satu kali lapangan sepak bola letaknya persis di pinggir Jalan Cenderawasih Kelurahan Timika Jaya SP 2 Distrik Mimika Baru. Sesuai rencana rumah Tuhan dengan kapasitas 900 orang ini segera diresmikan pada Kamis (22/11) mendantang. Prosesi pemberkatan dipimpin oleh Mgr Jhon Philip Saklil Pr Uskup Keuskupan Timika. Dipilihnya tanggal tersebut sesuai dengan hari lahirnya Kuasi Santa Sisilia.
Pater Amandus Rahadat Pr Pastor Paroki Gereja Katedral Tiga Raja menjelaskan secara fisik bagian-bagian dari gereja tersebut sudah selesai. Untuk fasilitas dalam seperti bangku umat rupanya sekarang masuk tahap finishing. Juga listrik untuk pada bagian-bagian tertentu masih diperbaiki. Bahkan ia harapkan hingga akhir pekan ini sudah semua kelar.
“Sekarang ini pemasangan grendel pintu. Jadi sekarang kemajuan sudah 98 atau 99 persen. Yang terakhir tinggal finishing dan pemasangan sound system,” jelas Pater Amandus saat ditemui Timika eXpress di Pastoran Gereja Katedral Tiga Raja pada Senin (12/11).
Ia mengaku untuk sound system maupun bangku mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Mimika senilai kurang lebih Rp 600 juta. Rinciannya Rp400 juta untuk pengadaan bangku umat dengan jenis kayu besi. Pengerjaan bangku ini lanjut Pater pihak panitia pembangunan mencari tukang sendiri langsung ukur dan kerja di tempat supaya disesuaikan dengan keinginan. Ukuran bangku ada yang panjang dua meter dan delapan meter sesuai desain tempat duduk dalam gereja. Sementara pengadaan sound system senilai Rp200 juta oleh kontraktor yang ditunjuk Pemkab Mimika namun jarang sekali datang.
“Sebenarnya kami tidak mau kalau diadakan langsung oleh Pemkab, sebab kita harus tentukan speknya sesuai kebutuhan kami. Tapi untuk bangku kami kerja lebih dulu nanti tinggal Pemkab datang mengantar uang baru kami bayar,” katanya.
Pater Amandus menambahkan sesuai hasil surveinya untuk sound system dengan kualitas bagus harganya Rp 1,2 miliar. Maka dengan dana yang ada dirinya menyakini pasti pembelian sound system tidak mungkin sesuai spek yang diharapkan. Namun demikian karena itu bantuan sifat sebagai proyek maka dirinya terima saja.
Sementara terkait atapnya disebutkan menggunakan lempengan baja dilapisi enamel yang dipesan khusus dari pabrik di Jakarta secara keseluruhan menghabiskan dana dua miliar. Enamel ini lanjut Pater Amandus biasa digunakan untuk pembuatan cangkir, cerek dan gelas yang warna warni. Untuk atap gunakan cairan warna kuning kemudian dipanaskan dengan suhu 800 derajat celcius sehingga enamel itu melekap pada baja, sehingga warna atap kuning itu bukan dicat tapi sudah asli dari pabrik.
Kualitas bahan sangat bagus dengan usia pemakaiannya bisa makan waktu puluhan bahkan mencapai ratusan tahun baru bisa rusak. Pater juga menjamin tidak akan terjadi bocor atau rembesan air masuk sebab sistemnya setiap ujungnya saling mengikat.
“Air turun tidak bisa tembus. Atap enamel ini untuk mengatasi kebocoran kami. Sudah buang ratusan juta, ini kan pesan langsung dari pabriknya,” katanya.
Ia mengisahkan pengadaan enamel ini awal pihaknya surveinya di Surabaya di Sidoarjo, tetapi pabrik di Sidoarjo tidak mampu karena menerima banyak orderan proyek-proyek pemerintah karena mengejar akhir Desember sehingga pesanan dialihkan ke pabrik di Jakarta.
Selain itu Pater mengakui sistemnya juga sama untuk pengadaan kaca patri warna-warni menelan dana Rp 1,7 miliar.
“Kami bayar sendiri, bantuan Pemkab datang baru tutupi. Kalau kami tunggu uang dari Pemkab pasti terlambat. Kami kerja dulu baru nanti uang datang dibayar,” tuturnya.
Ia mengaku merampungkan pembangunan gedung gereja itu memakan waktu sepuluh tahun menelan dana hampir Rp20 miliar. Rinciannya bantuan Pemkab Mimika hingga saat ini Rp 14-15 miliar, sedangkan umat sendiri lima atau enam miliar.
Lebih jauh Pater menjelaskan seluruh penggunaan dana itu dirinya akan laporkan pada saat peresmian nanti.
“Memang banyak orang berkata lama sekali bangunnya. Ya, umat kerja sesuai dengan dana yang ada. Jadi selain Pemkab beri bantuan setiap saat. Ditambah lagi dengan kemampuan umat sendiri melalui utang dengan pinjam di CU Bintang Timur,” jelasnya.
Pengembalian dari tiga kali pinjam itu lanjut Pater dibayar secara bersama-sama oleh umat Katedral dan Kuasi Santa Sisilia setiap bulan hingga saat ini.
Daya tampung gereja
Dikatakan dulu awal pembangunan gereja tersebut dengan kapasitas daya tampung sesuai jumlah 500 umat. Tetapi setelah sepuluh tahun berjalan sekarang jumlah umat sudah mencapai 2000 orang. Sehingga setelah ukur dan pemasangan bangku yang ada bisa menampung kurang lebih 600 orang, lalu ditambah bagian balkon sistem tribun daya tampungnya kurang lebih 200-300 orang. Termasuk ditambah bangku-bangku di celah-celah. Dengan demikian katanya gedung yang ada mampu menampung 900 umat sekali misa. Maka dengan jumlah umat 2000 lebih otomatis perayaan misa mau tidak mau harus dua kali pada pagi dan sore hari.
Ia mengatakan Kuasi Santa Sisilia dari semua ketentuan sudah terpenuhi tinggal pastoran. Pastoran ini penting sebagai tempat tinggal pastor, menyimpan buku nikah, permandian dan pelayanan administrasi lainnya bagi umat. Apabila satu syarat ini belum ada maka belum bisa dimekarkan menjadi sebuah paroki.
Atap model honai
Pater Amandus juga menjelaskan alasan memilih atap gereja model honai rumah adat orang Wamena, bukan rumah adat Kamoro atau Amungme karena atap rumah adat Kamoro sudah ada di Gereja Katedral Tiga Raja. Alasan lain ingin menujukan kesan ke Papua-annya. Sebab secara umum orang luar lebih mengenal honai sebagai rumah adat Papua.
Pater juga mengaku awal dipasang atapnya orang menganggap itu masjid sehingga untuk memperjelas dan mempertegas bahwa itu gereja dibangunlah sebuah salib ukuran besar di depan gereja.
Lokasi gereja
Kaitan dengan ini ia juga mengisahkan awal dibentuknya stasi itu berawal dari umat di wilayah itu khusus Suku Kamoro dan Amungme beragama katolik mencari tanah untuk dibangun gereja.
Lalu atas inisiatif umat katolik kedua suku itu berangkat bertemu Klemen Tinal Bupati Mimika kala itu.
Di hadapan Bupati Klemen lanjut pater mereka mengutarakan bahwa semua tanah di Timika sudah penuh dengan rumah-rumah ibadah agama Islam dan Kristen. Sedangkan orang Kamoro dan Amungme beragama Katolik belum punya tempat untuk bangun gereja.
Mendengar itu kata Pastor Amandus, Bupati Klemen merespon positif dengan mengungkapkan kalian sudah punya lapangan di SP 2. Dan mulai saat itu ia menandatangani surat hibah tanah Pemkab itu seluas lapangan bola kaki kepada umat Stasi Santa Sisilia dibawah naungan Paroki Gereja Katedral Tiga Raja. Padahal beberapa waktu itu di lokasi yang sama sudah ada warga turunkan material untuk bangun sekolah miliknya Philipus Wakerkwa. Namun akhirnya berhenti setelah diserahkan ke gereja.
Dipasang patung mitoro
Pater juga menambahkan di depan gereja itu akan dipasang patung mitoro dan rumah adat Amungme. Seperti halnya di Gereja Katedral Tiga Raja. Berbicara karapo menurut Pater Amandus berarti bicara tentang mitoro. Jadi ini merupakan satu kesatuan orang pantai. Sedangkan orang gunung ada tiang di bagian tengah. Orang gunung rumahnya biasa ada tiang-tiang selanjutnya baru dipasang papan diikatkan dengan tali rotan atau tali hutan.
“Jadi kita dari suku manapun Papua maupun non Papua datang di sini masuk di gereja ini sama halnya dengan masuk lewat rumah orang pantai dan rumah orang gunung. Kita bersatu di dalam gereja,” jelasnya.
Pater Amandus juga mengaku saat ini dirinya sementara tulis tentang filosofis bangunannya tentang Yesus adakan perjamuan bersama 12 para rasul.
“Nanti bisa lihat di altar ada gambar perjamuan Yesus bersama 12 para rasul. Umat juga merayakan dalam perayaan ekaristi. Yang dirayakan itu Yesus yang menderita dan disalibkan kemudian bangkit,” paparnya.
Pada gambar itu lanjutnya dilengkapi dengan tulisan ayat Kitab Suci sesuai Injil Mateus. Dari tulisan ayat ini tinggal umat datang buka Kitab Suci sesuai ayatnya tinggal baca. Isinya berbunyi ‘bahwa mulai pukul 12.00 WIT seluruh daerah itu gelap sampai jam 15 sore. Pada jam 3 menunjukan Yesus menghembuskan napas terakhir di atas kayu salib hina’.
Cerita itu lanjutnya umat rayakan di altar ini. Dibacakan dari mimbar oleh seluruh yang kita rayakan, kita dapat dari empat pengarang injil yakni Mateus, Markus, Lukas dan Yohanes. Mereka menulis. Lalu tulisan mereka itu diwartakan oleh ke 12 rasul ke seluruh dunia. Dengan posisi enam rasulnya di sebelah kanan dan enam lainnya disebelah kiri. Dan warta kabar gembira ini sampai juga ke Papua, Timika dan di SP2. Bahkan warta gembira itu akan diterima oleh seluruh Kelompok Umat Basis (KUB).
Digantung gambar pelindung masing-masing KUB
Selain itu lanjutnya pada dinding bagian dalam gereja untuk mempercantik interior digantung pula gambar masing-masing pelindung KUB. Ini menggambarkan Sabda Tuhan itu dirayakan secara bersama-sama dalam rumah honai.
Sebagai pastor paroki ia mengajak seluruh umat untuk terus bangun rohani, mental spritualnya. Sebab gereja itu sebetulnya arti pertama bukan sebuah bangunan megah, melainkan jemaat atau umat Allah itu sendiri. Fisik sudah bagus sebagai sarana berdoa, sekarang iman umat mestinya juga lebih dikembangkan supaya indah seperti gereja yang ada.
“Imannya harus seindah gerejanya, secantik gerejanya. Dan iman umat yang nampak dalam sikap hidup serta perilaku harus secantik itu. Mari kita membangun iman kita secantik ini. Sebagus ini supaya umat memuji fisiknya tetapi umat juga perlu memuji iman kita yang cantik pula,” ajak Pastor Amandus. (antonius djuma)
Terima kasih karena telah membaca informasi tentang Dibangun Selama 10 Tahun, Telan Dana Rp20 Miliar . Silahkan membaca berita lainnya.