Kapendam Tantang Jubir OPM ke Timika Lihat Jenazah
Jayapura, PAPUANEWS.ID – Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih Kolonel Inf M Aidi menantang Sebby Sambom yang mengklaim dirinya sendiri sebagai juru bicara (jubir) TPN/OPM agar datang ke Timika, Kabupaten Mimika, Papua dan melihat langsung jenazah korban pembantaian OPM di Nduga.
“Silakan datang ke Timika, bisa didampingi oleh pihak terkait, misal, Komnas HAM, atau institusi manapun, supaya bisa lihat langsung korban penembakan dari Nduga,” kata Aidi ketika dihubungi dari Jayapura (7/12).
Pernyataan tersebut sengaja disampaikan oleh Aidi ketika disinggung mengenai tudingan Sebby Sambom bahwa pekerja jembatan di Distrik Yall, Yigi dan Mbua merupakan anggota TNI.
“Kalau dia menuding bahwa korban yang dibantai itu adalah anggota TNI, maka saya undang yang bersangkutan datang ke Timika, agar bisa membuktikan bahwa pernyataanya itu benar atau salah, silahkan cek,” tegas Aidi.
Aidi menambahkan, dengan datang dan melihat sendiri jenazah korban di Timika, Sebby Sambom bisa membuktikan sendiri pernyataan yang salah di sejumlah media, sehingga tidak menimbulkan penafsiran berbeda dan polwmik berkepanjangan.
“Saya undang, saya jamin keamanannya (Sebby Sambom, red), ini logika pertamanya yah,” katanya.
Aidi melanjutkan, logika kedua jika anggota TNI dituding menjadi pekerja yang melakukan pembangunan jalan dan jembatan trans-Papua di Kabupaten Nduga sehingga dibantailah para pekerja tersebut seperti diberitakan.
“Jika TNI bangun jalan apakah pantas dibantai? Ini logikanya, pola pikir normal secara moral. Jika oknum TNI lakukan kejahatan, ada hukum jalurnya. TNI hadir untuk membangun Papua, kesejahteraan rakyat Papua, kok harus dibantai, dibunuh? Ini logika kedua,” ujarnya.
Menurutnya, pembangunan jalan dan jembatan trans-Papua terbagi menjadi beberapa sektor dimana sejak 2016-17 terdapat beberapa kontraktor yang bekerja di sejumlah tempat termasuk di Nduga.
“Zeni Kontruksi TNI juga pernah kerja di sana. TNI diberikan sektor yang paling berat, selain itu disitu juga ada perusahaan lainnya yang bekerja seperti Istaka Karya. Salahnya di mana jika TNI dilibatkan membantu pekerjaan tersebut, apalagi itu perintah presiden, perintah negara,” tambahnya.
TNI selalu berada digarda terdepan bangsa untuk mengatasi kesulitan rakyat yang berada disekitar kita. Contohnya kasus KLB Asmat, TNI adalah yang pertama tiba di sana, Aidi menambahkan.
Tidak hanya itu, saat di daerah pedalaman dan tenaga pengajar atau tenaga kesehatan tidak ada. TNI selalu turun ikut menjadi guru bahkan perawat di kampung-kampung tersebut.
“Ini semua bukan TNI ingin ambil alih tugas pihak lain, tetapi mengisi kekosongan yang tidak bisa dilakukan oleh pihak lain. Jadi, tudingan kepada TNI itu saya kira tidak masuk akal, tidak masuk logika,” katanya.
Sebelumnya, TNI dalam hal ini Aidi mengaku pernah diwawancarai oleh media internasional dan dikatakan bahwa TNI merupakan musuh dari TPN/OPM.
“Apalagi dikatakan TNI kerahkan pesawat untuk membom lokasi kejadian. Ini bisa saja kami lakukan kerahkan semua alutsista, tapi kami tidak lakukan itu. Kami masih punya norma, tapi mereka (TPN/OPM) tidak. Kedaulatan NKRI diakui oleh seluruh dunia, tidak ada satu negara pun yang menyangkal itu,” tegasnya.
Jika ada oknum atau bahkan negara yang menyatakan dukungngannya terhadap perjuangan TPN/OPM, Aidi menduga itu hanya suara satu dua oknum yang tidak suka Indonesia, karena hingga kini hubungan diplomasi Indonesia dengan negara di dunia tetap berjalan baik dan harmonis.
“Bahkan negara yang belum ada hubungan diplomatik dengan Indonesia seperti Israel mengakui kedaulatan Indonesia. Kalau mereka itu legalitas dari mana, pegang dan angkat senjata saja sudah ilegal, sudah pelanggaran hukum, tidak ada pembenaran dari hukum manapun orang yang tidak berkepentingan angkat senjata,” jelasnya.
Tidak ada satupun negara di dunia ini yang mendukung pemberontakan. Contoh saja, Amerika yang memiliki paham liberal tidak akan menyetujui negara bagiannya untuk memisahkan diri.
“Kita NKRI, berpaham demokrasi Pancasila, beda dengan paham liberal yang bebas. Pancasila menganut kebebasan terbatas, hak orang lain dilindungi dan dibatasi, bukan liberal, kita ada hukum dan norma, beda dengan Amerika,” paparnya.
Terima kasih karena telah membaca informasi tentang Kapendam Tantang Jubir OPM ke Timika Lihat Jenazah . Silahkan membaca berita lainnya.