Papua Darurat HAM dan AIDS

FOTO:INDRI/TIMEX
SAMBUTAN-Arnold Kayame saat memberikan sambutan pada acara peringatan Hari Aids dan HAM Sedunia di Kampung Utikini, Sabtu pekan lalu.
TIMIKA,TimeX
Dimata dunia, Papua kini diklaim masuk daerah darurat Hak Asasi Manusia (HAM) dan kasus AIDS. Dimana berdasarkan cataan Dinas Kesehatan Papua per September 2018 sudah teridentifikasi 38 ribu kasus HIV/Aids di bumi Cenderawasih.
Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Aids 1 Desember dan hari HAM 10 Desember, maka seluruh elemen masyarakat harus intens menyerukan perdamaian dari kehidupan masyarakat yang heterogen agar kasus HAM yang masih terjadi bisa diredam.
Serta untuk meminimalisir kasus HIV/Aids, kepada masyarakat diimbau tidak malu memeriksakan diri sedini mungkin agar terhindar dari penyakit yang belum ditemukan obatnya.
Seruan moral memerangi dua kasus ini dikumandangkan saat gelar peringatan hari HAM dan Aids sedunia yang digelar bersmaan di Lapangan Djayanti Utikini Distrik Kuala Kencana, Sabtu (8/12).
Gelar kegiatan bersama PT Freeport Indonesia, Distrik Kuala Kencana, Yayasan Peduli Aids Timika (Yapeda), denominasi gereja dan civitas pendidikan melibatkan pula semua elemen masyarakat.
“Tujuan dari peringatan kali ini supaya jangan ada lagi kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan pembunuhan, jangan lagi ada anak yang buta huruf serta disalibilitas, serta jangan ada lagi inveksi baru dan diskriminasi dari kasus HIV/Aids, serta jangan ada lagi kematian karena kasus HIV/AIDS.
Selain doa bersama, peringatan hari HAM dan Aids juga digelar lomba dancer antar pemuda dari berbagai denominasi gereja, serta konseling dan tes HIV/AIDS bagi seluruh masyarakat di Kampung Utikini dan sekitarnya.
Arnold Kayame selaku Vice President (VP) Community Relations and Human Rights (Hubungan Masyarakat dan Hak Asasi Manusia) PT Frepeort Indonesia dalam sambutannya, mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali tentang HAM dan Aids yang membuat dunia begitu memperhatikan dua kasus tersebut.
Dengan melihat begitu banyak kaum muda hadir dalam acara tersebut, kata Arnold, ini menunjukan bahwa kaum muda memahami dua kasus tersebut.
“Dengan hadir dan mengikuti berbagai lomba, ini menunjukan anak-anak muda kita sudah poaktif mendukung pemerintah dalam menjalankan program pembangunan, serta cinta kedamaian dan mau membentengi diri dari virus HIV sejak dini”.
Sambung dia, kini ada beberapa khusus di Mimika, yaitu setiap orang berhak untuk hidup karena semua manusia adalah ciptaan Tuhan, sehingga tidak satupun manusia berhak menghilangkan nyawa orang lain,” tegas Arnold.
Termasuk hak untuk mendapatkan pendidikan, untuk itu setiap orang tua harus menyekolahkan anaknya, jika tidak hal itu masuk pelanggaran HAM.
“Kita harus saling menjaga, jangan main hakim sendiri apalagi sampai membunuh sesama. Baiknya persoalan apapun harus diserahkan penanganannya kepada pihak yang berwenang,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Distrik Kuala Kencana, Lucas Evert Hindom menambahkan, peringatan hari AIDS dan HAM digelar bersamaan pada Sabtu (8/12), semata-mata untuk menyadarkan masyarakat Mimika sehingga ke depannya bisa arif dan bijaksana menyikapi dua kasus ini.
“Saya percaya melalui peringatan hari HAM dan AIDS ini akan menentukan hidup kita semua ke arah yang lebih baik.Warga masyarakat Utikini bisa dihargai dan bisa menjadi lebih baik bagi bangsa dan negara Indonesia,” serunya menambahkan harapan terbesarnya kepada anak muda harus bisa menjadi pelopor pembangunan.
Untuk itu ia mengajak muda-mudi, khususnya di Mimika harus bisa menerapkan pola hidup sehat, secara khusus agar terhindar dari HIV/Aids dan harus cinta damai.
“Saya bangga dengan warga saya di Utikini, karena mereka hidup aman dan mau menerima segala bentuk pembangunan. Say juga mau tekankan supaya masyarakat menghindar aau terhindar dari hal-hal yang buat hidup tidak nyaman. Tetapi harus hidup tolernsi satu sama lain serta tidak terjurumus dalam kasus HIV/Aids,” tandasnya. (a30)
Terima kasih karena telah membaca informasi tentang Papua Darurat HAM dan AIDS . Silahkan membaca berita lainnya.