Mendorong Pers Melawan Hoax
pada tanggal
Wednesday, 13 February 2019
Edit
Ini adalah berita terbaru dan menarik dengan judul Mendorong Pers Melawan Hoax. Silahkan baca dan menyimak artikelnya.

Terima kasih karena telah membaca informasi tentang Mendorong Pers Melawan Hoax . Silahkan membaca berita lainnya.
![]() |
| Tajuk SAPA |
MENGHADAPI momentum pesta demokrasi pada 2019 ini, informasi hoaks (berita bohong dan fitnah) banyak beredar di masyarakat, baik yang terkait dengan calon legislatif maupun calon presiden/wakil presiden. Untuk itu dituntut kedewasaan dan rasionalitas dari masyarakat dalam menyikapinya.
Oknum penyebar hoaks, seharusnya menyadari bahwa perbuatan mereka mengakibatkan dampak buruk di masyarakat, seperti merusak citra seseorang, menimbulkan keresahan, terganggunya aktivitas masyarakat dan lain-lain.
Hoaks mengenai SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolong) yang sering beredar di masyarakat juga tidak kala berbahayanya, karena bisa memicu terjadinya konflik. Demikian pula hoaks yang terkait dengan politik, tidak saja merusak nilai-nilai demokrasi, tapi juga berpotensi mengacaukan stabilitas di masyarakat.
Menyampaikan sesuatu yang tidak benar atau bohong dapat disamakan dengan fitnah yang derajat kesalahannya lebih kejam dari pembunuhan.
Untuk tidak mudah terjebat dengan informasi hoaks, warga diminta selalu selektif dalam menerima setiap informasi dan jika ragu-ragu mengabaikannya atau melakukan pengecekan terlebih dahulu kepada sumbernya atau pihak yang terkait dengan informasi itu.
Kalau informasi itu ternyata benar dan manfaatnya bagi masyarakat luas, misalnya informasi mengenai adanya potensi ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) bisa disebarluaskan, tetapi kalau mengenai aib seseorang harus disimpang.
Pers sebagai jembatan informasi di masyarakat dituntut perannya untuk melawan hoaks, di antaranya dengan cara menyajikan berita yang sebenarnya terhadap setiap informasi yang beredar di masyarakat.
Misalnya ketika ada informasi hoaks akan terjadinya tsunami, pers harus segera melakukan klarifikasi kepada Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan pihak terkait lainnya kemudian menginformasikannya kepada masyarakat dalam bentuk berita, sehingga masyarakat menjadi tenang dan tidak terpengaruh dengan informasi hoaks itu.
Pers yang memiliki jangkauan yang luas dan lebih cepat sampai ke masyarakat, seperti televisi, radio dan berita online sangat efektif untuk melakukan peran itu. Apalagi masyarakat sekarang banyak menggunakan gadget yang bisa dengan mudah mengakses berita.
Peran lain yang dapat dilakukan pers untuk melawan hoaks adalah memberi edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya hoaks, baik dari segi hukum maupun dampak negatifnya. Juga menginformasikan kepada masyarakat ciri-ciri informasi hoaks seperti sumbernya tidak jelas, materinya bersifat provokatif, tidak ada klarifikasi kepada pihak terkait dan banyak menyajikan data yang tidak rasional.
Kalau masyarakat sudah mengetahui ciri-ciri hoaks maka ketika mereka menerima sebuah informasi akan dengan mudah mengetahuinya apakah informasi itu benar atau hoaks, yang pada gilirannya akan menjadi pertimbangan dalam menyikapinya.
Dewan Pers dan organisasi kewartawanan perlu pula terus menginformasikan kepada masyarakat, perusahaan media massa dan wartawan yang legal setiap daerah, sehingga bisa membantu masyarakat untuk mengecek sumber berita apakah dari media massa yang legal atau bukan.
Profesionalisme pers tidak kalah penting dalam upaya melawan hoaks, karena bisa jadi justru pers sendiri yang menjadi bagian dari penyebaran hoaks itu. Misalnya ketika ada nara sumber menyampaikan sebuah informasi yang sebenarnya informasi itu adalah hoaks yang kemudian tanpa melakukan klarifikasi dan analisa mendalam atas informasi itu langsung memberitakannya.
Pers yang independen juga diharapkan tidak hanya dalam slogan tetapi harus implementasikan secara nyata karena pers yang tidak indenpenden memberi celah menjadi jembatan penyebaran hoaks dari pihak tertentu yang ingin menjatuhkan pihak lain.
Kecenderungan penggunaan hoaks untuk menjatuhkan lawan, termasuk dalam percaturan politik dewasa ini cukup marak dan di situ pers dituntut untuk teguh mempertahankan idealisme agar harapan menjadikan pers sebagai pestisida untuk membunuh hoaks dapat diwujudkan. (Antara)
Hoaks mengenai SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolong) yang sering beredar di masyarakat juga tidak kala berbahayanya, karena bisa memicu terjadinya konflik. Demikian pula hoaks yang terkait dengan politik, tidak saja merusak nilai-nilai demokrasi, tapi juga berpotensi mengacaukan stabilitas di masyarakat.
Menyampaikan sesuatu yang tidak benar atau bohong dapat disamakan dengan fitnah yang derajat kesalahannya lebih kejam dari pembunuhan.
Untuk tidak mudah terjebat dengan informasi hoaks, warga diminta selalu selektif dalam menerima setiap informasi dan jika ragu-ragu mengabaikannya atau melakukan pengecekan terlebih dahulu kepada sumbernya atau pihak yang terkait dengan informasi itu.
Kalau informasi itu ternyata benar dan manfaatnya bagi masyarakat luas, misalnya informasi mengenai adanya potensi ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) bisa disebarluaskan, tetapi kalau mengenai aib seseorang harus disimpang.
Pers sebagai jembatan informasi di masyarakat dituntut perannya untuk melawan hoaks, di antaranya dengan cara menyajikan berita yang sebenarnya terhadap setiap informasi yang beredar di masyarakat.
Misalnya ketika ada informasi hoaks akan terjadinya tsunami, pers harus segera melakukan klarifikasi kepada Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan pihak terkait lainnya kemudian menginformasikannya kepada masyarakat dalam bentuk berita, sehingga masyarakat menjadi tenang dan tidak terpengaruh dengan informasi hoaks itu.
Pers yang memiliki jangkauan yang luas dan lebih cepat sampai ke masyarakat, seperti televisi, radio dan berita online sangat efektif untuk melakukan peran itu. Apalagi masyarakat sekarang banyak menggunakan gadget yang bisa dengan mudah mengakses berita.
Peran lain yang dapat dilakukan pers untuk melawan hoaks adalah memberi edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya hoaks, baik dari segi hukum maupun dampak negatifnya. Juga menginformasikan kepada masyarakat ciri-ciri informasi hoaks seperti sumbernya tidak jelas, materinya bersifat provokatif, tidak ada klarifikasi kepada pihak terkait dan banyak menyajikan data yang tidak rasional.
Kalau masyarakat sudah mengetahui ciri-ciri hoaks maka ketika mereka menerima sebuah informasi akan dengan mudah mengetahuinya apakah informasi itu benar atau hoaks, yang pada gilirannya akan menjadi pertimbangan dalam menyikapinya.
Dewan Pers dan organisasi kewartawanan perlu pula terus menginformasikan kepada masyarakat, perusahaan media massa dan wartawan yang legal setiap daerah, sehingga bisa membantu masyarakat untuk mengecek sumber berita apakah dari media massa yang legal atau bukan.
Profesionalisme pers tidak kalah penting dalam upaya melawan hoaks, karena bisa jadi justru pers sendiri yang menjadi bagian dari penyebaran hoaks itu. Misalnya ketika ada nara sumber menyampaikan sebuah informasi yang sebenarnya informasi itu adalah hoaks yang kemudian tanpa melakukan klarifikasi dan analisa mendalam atas informasi itu langsung memberitakannya.
Pers yang independen juga diharapkan tidak hanya dalam slogan tetapi harus implementasikan secara nyata karena pers yang tidak indenpenden memberi celah menjadi jembatan penyebaran hoaks dari pihak tertentu yang ingin menjatuhkan pihak lain.
Kecenderungan penggunaan hoaks untuk menjatuhkan lawan, termasuk dalam percaturan politik dewasa ini cukup marak dan di situ pers dituntut untuk teguh mempertahankan idealisme agar harapan menjadikan pers sebagai pestisida untuk membunuh hoaks dapat diwujudkan. (Antara)
Terima kasih karena telah membaca informasi tentang Mendorong Pers Melawan Hoax . Silahkan membaca berita lainnya.
