Puskesmas Jileyale Raih Akreditasi Madya
Foto: Yosefina Dai Dore/Timika eXpress
FOTO BERSAMA – Elena Gwijangge Kepala Puskesmas Jileyale (tengah) foto bersama Yuniki Ayuntowe Lamusa, Kepala Tata Usaha Puskesmas Jileyale (kiri) dan Agustina Paulina Gayatri Ketua Tim Mutu PKM Jileyale di Puskesmas Jileyale, Senin (11/2).
TIMIKA,TimeX
Puskesmasn Jileyale Kelurahan Karang Senang SP 3 raih akreditasi madya. Hal inisetelah melalui proses penilaian dan pengolahan data yang dilakulan oleh tim akreditasi dari Kementerian Kesehatan selama tiga bulan, terhitung November 2018.
Hal ini disampaikan Elena Gwijangga Kepala Pusksemas Jileyale kepada Timika eXpress di ruang kerjanya, Senin (11/2).
Ia mengatakan sebelum menjalani penilaian oleh tim selama tiga hari yakni pada tanggal 26-28 November 2018, pihaknya sudah lebih dahulu mempersiapkan di semua bidang penilaian selama sembilan bulan.
“Jadi tim dari Kemenkes yang datang melakukan penilaian itu ada tiga orang, yaitu perwakilan dari Bidang Administrasi, usaha kesehatan masyarakat dan Usaha kesehatan perorangan,” kata Elena.
Untuk Bidang UKM jelasnya menyangkut pelayanan di lapangan atau di luar gedung yang berhubungan langsung dengan masyarakat, seperti kunjungan rumah, pengambilan data dan sebagainya. Sementara UKP merupakan pelayanan dalam gedung puskesmas, seperti pelayanan terhadap pasien-pasien yang datang berkunjung.
“Jadi tim melakukan penilian di semua bidang baik manajemen dan pelayanan sesuai standar Kemenkes,” ujarnya.
Dikatakan untuk seluruh Papua sebanyak 15 puskesmas yang ikut akreditasi 2018 dan Puskesmas Jileyale merupakan salah satu di antara enam Puskesmas yang terakreditasi madya atau mendapatkan tiga bintang.
“Jadi ada empat jenis akreditasi yakni akreditasi dasar, madya, utama dan paripurna. Untuk RSMM terakreditasi utama atau mendapatkan empat bintang, sementara yang paling tinggi yaitu paripurna yang mendapatkan lima bintang itu RSUD Mimika,” terangnya.
Elena yang dilantik menjadi Kepala Puskesmas Jileyale pada 28 November 2015 lalu ini mengungkapkan untuk bisa mencapai prestasi saat ini, melewati perjuangan yang cukup panjang.
Saat dilantik menjadi kepala puskesmas, pelayanan masih dilakukan di gedung lama yang berlokasi di Kwamki Narama. Ketika terjadi konflik sosial pada masyarakat Kwamki Narama, gedung pustu tersebut dirusak warga, sehingga pelayanan menggunakan tenda dari Kemenkes.
Meskipun dengan segala keterbatasan fasilitas, ia berkomitmen mengubah pola pikir dari tenaga-tenaga kesehatan yang bekerja di puskesmas tersebut agar disiplin dan loyal dalam bekerja.
“Mungkin karena pengalaman saya bekerja di Freeport selama 15 tahun, saya selalu dilatih untuk disiplin, pola yang sama juga saya gunakan dalam pelayanan di puskesmas,” tuturnya.
Ternyata usahanya tersebut berbuah manis. Ia mampu memberikan pengaruh yang positif kepada bawahannya. Mereka mulai disipilin bekerja dan loyal.
“Jadi meskipun kami pelayanan di tenda, pegawai-pegawai datang tepat waktu dan memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat,” ujarnya.
Pada akhirnya, Pemkab Mimika membangun gedung Jileyale yang baru sesuai standar dari Kemenkes. Dengan adanya gedung baru semua pelayanan di puskesmas disesuaikan dengan standar Kemenkes, meskipun masih ada kekurangan.
“Karena gedung sesuai standar, pelayananpun harus demikian. Kami mulai mencari informasi standar pelayanan Kemenkes dari Webseite Kemenkes. Kami mulai mengatur pembagian tugas, pembuatan jadwal dan lainnya. Kami berupaya agar pelayanan sesuai standar dari pusat meskipun belum sempurna” katanya.
Puskesman tersebut, lanjut dia memiliki 80 tenaga kesehatan termasuk dua dokter umum dan satu dokter gigi, namun yang aktif dalam pelayanan hanya 70 orang, karena lima tenaga kesehatan lainnya melanjutkan pendidikan.
“Jadi semua tenaga profesi di Puskesmasn Jileyale lengkap. Untuk bisa meningkatkan akreditasi lagi tiga tahun ke depan, nanti kita akan tambahi rekam medis dan fasilitas penunjang lainnya. Karena kami tidak mau akreditasi kami turun atau stagnan,” tuturnya.
Pihaknya juga akan berusaha agar puskesmas tersebut bisa mendapat sertifikat, mislanya sertifikat untuk Ketua Tim Mutu, atau Ketua Pokja UKM dan UKP.
“Jadi Ketua Tim Mutu ini pusat dari semua kegiatan akreditasi. Kalau panitia tim akreditasi bisa otomatis bubar setelah akreditasi selesai, tapi harus ada tim mutu di dalamnya untuk mengontrol pelayanan mutu puskesmas itu,” tambahnya.
Elena berharap Pemkab Mimika bisa melengkapi fasilitas di puskesman tersebut seperti mobil ambulans, Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) dan pembuatan pagar keliling.
“Karena itu yang menjadi tanggung jawab dari Dinas Kesehatan. Kalau dari segi pelayanan tim akreditasi memberikan penilaian 90 persen, kekurangan fasilitas itu yang membuat nilai kami turun,” sebutnya.
Dikatakanan ketiadaan ambulans tersebut membuat pihak puskesmas harus menyewa mobil untuk merujuk pasien.
“Mobil kami sewa tapi kami lengkapi dengan oksigen sesuai dengan standar pelayanan,” ujarnya.
Keberadaan puskesmas tersebut melayani masyarakat yang berada di wilayah SP 2, dengan batas di Tempat Pemakaman Umum SP 2, sampai dengan Kuala Kencana. Dan dari Puskesmas Jileyale sampai wilayah Inamco. “Jadi kita melayani masyarakat satu distrik, dua kelurahan dan empat kampung,” sebutnya.
Ia menambahkan Puskesmas Jileyale mengelola dana setiap tahun bersumber dari APBN dan APBD senilai dibawa Rp500 juta.
“Kadangan tidak sampai empat ratus juta. Selama saya jadi kepala puskesmas paling banyak empat ratus juta lebih. Anggaran ini kita gunakan untuk membiayai 13 program pelayanan puksemsas,” tuturnya.
Sementara kunjungan pasien perhari di puskesmasn tersebut mencapi 50 orang. Selain itu pihaknya aktif memberikan pelayan luar gedung yakni kunjungan rumah.
“Jadi kami tahu rumah orang-orang yang sakit TB, lokasi dengan kasus ISPA tertinggi, kasus malaria tertinggi. Peta wilayah kami jelas, pelayanan juga jadi lebih tepat sasaran,” katanya.
Sementara Agustinas Paulina Gayatri Ketua Tim Mutu PKM Jileyale Puskesmas Jileyale menjelaskan seharusnya akreditasi yang diperoleh Puskesmas Jileyale bisa saja meraih peringkat utama. Namun ada beberapa kendala. Salah satunya adalah karena berdasarkan penilaian dari tim akreditasi Kemenkes, Puksemas Jileyale belum memenuhi standar dalam hal pencatatan.
“Kami bekerja tapi kadang kurang simpan dokumen. Kalau diakreditasi itu prinsipnya kerjakan yang ditulis, tulis yang dikerjakan, tapi kami masih bolong untuk masalah dokumen. Setelah mereka cek dokumen sudah kerja semua tapi pengaturan dokumen belum semuanya sesuai SOP. Sehingga kemarin kita dituntut supaya semua pekerjaan harus sesuai SOP,” paparnya.
Atas prestasi yang diperoleh ini, Agustina mengucapkan terima kasih atas dukungan dari Kepala Kampung Tunas Matoa, Kepala Kampung Bintang Lima, Kepala Kampung Jimbi, Kepala Kampung Karya Kencana (Inamco dan Beringin) beserta staf, Lurah Karang Senang beserta staf, Lurah Kuala Kencana beserta staf. Ucapan yang sama juga bagi tokoh masyarakat dan tokoh agama di wilayah tersebut. Tak lupa pula Kader Posyandu Jambe Arum SP 3, Posyandu Damai SP 3, Posyandu TSM SP 3, Posyandu Kodim, Posyandu Brimob, Posyandu Kavaleri, Posyandu Inamco, Posyandu Pondok Amor, Posyandu Hamada di Kampung Tunas Matoa, Posyandu Peggy di Kampung Bintang Lima. Selain itu Posyandu Lansia Karang Senang SP3, Posyandu Lansia Jileyale, Posyandu Lansia TSM, Posyandu Lansia Inamco dan Pos UKK Tunas Jaya SP3. Kemudian TK, SD, SMP, SMK yang berada di wilayah kerja PKM Jileyale. Lainnya LSM ikut bergerak pada program malaria, TB paru selama ini bekerjasama dengan Puskesmas Jileyale.
Dinkes Targetkan 10 Puskesmas Terakreditasi 2020
Sementara Reynold Ubra Sekretaris Dinkes Mimika memastikan Dinkes Mimika menargetkan 10 puskesmas akan terakreditasi di tahun 2020 mendatang.
Akreditasi sebagai wujud komitmen pemerintah dalam peningkatan mutu pelayanan khususnya difasilisitas kesehatan tingkat pertama. Proses akreditasi dilakukan secara bertahap. Saat ini katanya berdasarkan data Dinkes Mimika dari 23 Puskesmas yang ada di Mimika baru empat yang diakreditasi sejak Tahun 2017-2018.
Hal ini Reynold sampaikan kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (8/2).
Menurutnya, jika target 10 puskesmas ini bisa diakreditasi pada tahun 2020 nanti maka hampir 50 persen puskesmas di Kabupaten Mimika sudah terakreditasi.
Dikatakan pada tahun 2017 lalu, pihaknya mendorong tiga puskesmas mendapatkan status terakreditasi dari Kementerian Kesehatan. Tiga puskesmas tersebut yakni, Puskesmas Timika, Puskesmas Timika Jaya dan Puskesmas Kokonao. Setelah dinilai tim aksesor independen, Puskesmas Timika dan Timika Jaya dinyatakan lulus akreditasi, sedangkan Puskesmas Kokonao tidak mengikuti persiapan akreditasi.
Tahun 2018 pihaknya kembali mendorong Puskesmas Jileyale dan Wania untuk diakreditasi.
Pada 17 Desember 2018, Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI telah menerbitkan surat status kelulusan akreditasi bagi Puskesmas Jileyale dan Wania.
“Jadi dua puskesmas itu sudah dapat hasilnya yakni Puskesmas Jileyale dapat type madya, bintang tiga dan Puskesmas Wania mendapat akreditasi dasar,” ujarnya.
Dengan terakreditasinya puskesmas ia menyakini pelayanan kesehatan yang diberikan puskesmas sudah pasti lebih baik dan terstandar.
Akreditasi Puskesmas merupakan upaya pemerintah menyamaratakan kualitas dan mutu pelayanan kesehatan dasar di semua wilayah.
Akreditasi memberikan jaminan bahwa petugas Pukesmas melayani masyarakat sesuai standar yang ditetapkan.
“Sesuai arahan pemerintah, pada tahun 2020 seluruh puskesmas sudah terakreditasi. Setidaknya setiap satu kecamatan, ada satu puskesmas terakteditasi,” pungkasnya. (san/epy/ozy)
Terima kasih karena telah membaca informasi tentang Puskesmas Jileyale Raih Akreditasi Madya . Silahkan membaca berita lainnya.