Yang Perlu Dibahas Di Seminar Bukan Lagi Soal Data Tapi Strategi Sebagai Solusi Orang Papua Menjadi Kaya
pada tanggal
Monday, 11 February 2019
Edit
Ini adalah berita terbaru dan menarik dengan judul Yang Perlu Dibahas Di Seminar Bukan Lagi Soal Data Tapi Strategi Sebagai Solusi Orang Papua Menjadi Kaya . Silahkan baca dan menyimak artikelnya.
MENGAPA Papua bisa menjadi yang termiskin? Dan apa solusinya? Grup WhatsApp (WA) EME NEME YAUWARE (ENY) di Timika membahasnya dalam diskusi khusus yang digagas oleh Irjen Pol Paulus Waterpauw (mantan Kapolda Papua dan Sumatera Utara) dan Admin Grup ENY, M. Adri Rumbou, S.Sos, M.Si sejak Minggu, 20 Januari 2018.

Terima kasih karena telah membaca informasi tentang Yang Perlu Dibahas Di Seminar Bukan Lagi Soal Data Tapi Strategi Sebagai Solusi Orang Papua Menjadi Kaya . Silahkan membaca berita lainnya.
Diskusi Grup Whatsapp ENY tentang Kemiskinan di Papua dan Solusinya (16)
![]() |
| Lamberth Nunaki (Foto : IST) |
Dengan merujuk pada tulisan Redaksional SKH Salam Papua edisi Senin 30 Juli 2018 dengan judul
“Provinsi Papua Juara 1 Termiskin Se Indonesia,” yang diposting di Grup WA ENY oleh Irjen Pol Paulus Waterpauw pada Minggu (20/1) pukul 18.54 WIT, diskusi yang mengangkat tema, “Kemiskinan di Papua dan Solusinya” berjalan hangat. Bertindak sebagai Moderator diskusi ini adalah Prof. Dr. Hironimus Taime, MBA (Pengamat Ekonomi dan Sosial Indonesia).
Berikut ini sejumlah pendapat, masukan, kritik dan saran solusi yang disampaikan oleh member Grup WA Eme Neme Yauware yang diterbitkan Salam Papua, edisi keenambelas.
Postingan Salmon Naa yang juga karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI) mengangkatkan lirik lagu “Suara Kemiskinan” ciptaan Frangki Sahilatua yang dipopulerkan oleh artis nasional kebanggaan Papua, Edo Kondologit. Kami tidur di atas emas, berenang di atas minyak, tapi bukan kami yang punya. Kami hanya menjual pinang, mendapat beragam tanggapan dari anggota WA Grum ENY.
Abraham Timang yang juga Sekretaris Eksekutif Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (LPMAK) merupakan anggota grup pertama yang memberi tanggapan. Tikus mati di lumbung padi, kenapa bisa mati??? Mari kita sama-sama mencari solusinya.
Dantje Nere juga memposting tanggapannya. Puluhan tahun kami tidur dalam dekapan dan sapaan canda, serta tawa yang tak berujung, dalam untaian kata ‘kaya’ tapi kami tak perna tau, dan bahkan tak mengerti, ke mana sumber daya alam itu dibawa pergi. Karena rasa geli pun tak pernah ada pada tubuh kami. Semua dibawa, hanya sepenggal kata “bumi dan laut serta isinya adalah milik negara dan pakai sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat, rakyat yang mana? Dan ‘hilang ‘(seperti lagu Black Brothers) dan tak bermakna bagi kami. ”Entah Kampe Kapan??” (Ebiet G.Ade).
Dantje Nere menambahkan. Jika seminar atau lokakaryanya jadi dilaksanakan, agar para pembicara ini di jadwalkan dalam sesi untuk menyampaikan masukan sesuai ulasannya minimal 5 menit, agar dari hasil itu kita turunkan kesimpulan utk diberikan ke Pemerintah Daerah Mimika jika memungkinkan bisa menjadi barometer untuk Papua, mengapa???.Karena Mimika dapurnya Papua dan Papua dapurnya Indonesia.
Dantje juga memberi masukan untuk seminar yang akan dilaksanakan. Pemateri utama Gubernur Papua, Pembanding: Bupati Mimika dan salah satu kepalah Daerah di Utara Papua : Bupati/Walikota Jayapura, Biak, Serui, Waropen atau Nabire.
Agus Hugokreey menanggapi postingan Dantje Nere. Sebagai saran, kita juga perlu mendengarkan pendapat Kepala BPS (Badan Pusat Statistik) Pusat dan Provinsi Papua yang telah menyampaikan presentase daerah termiskin di Indonesia berdasarkan data yang telah dihimpun. Karena info di berita disampaikan BPS bahwa barometer kemiskinan diambil dari data kenaikan inflasi suatu daerah/ kesejahteraan oleh BPS Pusat. Sementara menurut Kepala BPS Papua dilihat dari 3 aspek yakni : 1. Pendidikan, 2. Kesehatan dan 3. Kesejahteraan. Jadi saran saya supaya pembahasannya secara keseluruhan maka kita perlu mendengarkan saran dan pendapat BPS untuk mengatasi kemiskinan di Papua secara khusus.
Lamberth Nunaki memberi usulan. Saya berpikir bahwa kita semua di dalam group ini sudah tau apa itu kehidupan dibawa standar sejahterah. Karena kita ini sudah kerja sekian tahun lalu dan hasilnya ya, kita tuai sekarang. Kita juga sudah tau penyebabnya.
Bagi saya oleh sebab belum sejahteranya orang Papua maka muncul OTSUS, muncul 1%, hinga saat ini mau tambah lagi 10%. Kita ini sudah yang punya program dari sekian tahun lalu dan kita sedang panen hari ini. Kemiskinan bukan turun dari langit ataupun kekayaan juga bukan turun dari langit tetapi ada prosesnya dan itulah hasil proses yang kita dapatkab sekarang. Sehingga bagi saya yang perlu diseminarkan bukan lagi data-data berapa orang miskin, angkanya sudah sekian banyak penyebabnya ini itu dan lain-lain. Bukan lagi topik kemiskinan tetapi cara atau formula apa yang pas bagi orang Papua untuk kaya dan sejahterah.
Bagi saya kita hanya buang-buang waktu datang duduk dengarkan data2 orang miskin di kab.ini, kab itu. Kita ini mau sejahterah, mau menikmati kekayaaan, mau tau bagaimana proses menuju hidup yang berkelimpahan.
Jadi menurut saya jangan lupa pak Sumitro, Abang John Thie, Ada Pak Cayetanus penjahit di depan pintu masuk Bar Boulivard, mereka yang ceritrakan mengapa mereka berhasil. Lalu itu menjadi inpirasi dan motivasi bagi masyarakat untuk merubah cara berpikir mereka. Kalau kita terus berputar-putar bahas kemiskinan, kita tidak dapat solusinya. Tapi kalau kita bahas strateginya untuk kaya, kita pasti dapat solusinya. Kita bahas solusi bukan masalah kemiskinan.
![]() |
| Nikolaus Raing (Foto : IST) |
Ñikolaus Raing yang juga Ketua Ikatan Kerukunan Keluarga (IKF) Flobamora Kabupaten Mimika juga ikut memberi tanggapan dan usulan. Berbicara kemiskinan di Papua bukanlah hal yang baru. Dari tingkat pusat sampai daerah juga sudah pernah membahas masalah ini. Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI) pun juga pernah melakukan Riset dan merekomendasikan beberapa solusi yang perlu dijalankan oleh pemerintah.
Intinya teori sudah banyak .Yang masih kurang dan lemah adalah penerapannya di lapangan. Para pemangku kepentingan sudah tau apa yang perlu dilakukan. Yang belum adalah niat dan kejujuran untuk membangun Papua dengan hati.
Kata kunci nya adalah: penggunaan anggaran yang tepat sasaran dan bebas korupsi.
Kehadiran pemimpin di daerah yang kuat sangat mutlak diperlukan supaya dapat menerjemahkan dengan baik konsep-konsep pembangunan Papua masa depan baik, utk Rencana pembangunan jangka pendek, menengah maupun rencana pembangunan jangka panjang.
Kepemimpinan yang kuat harus lahir dari demokrasi yang benar. Krena itu demokrasinya juga perlu kita benahi agar betul-betul melahirkan pemimpin yang berkwalitas. Katakanlah kalau memang Papua masih terbelenggu dengan kemiskinan tentu ini sebuah ironi untuk Papua.
Beberapa usulan konkrit. (1) Bangun manusia Papua dengan meningkatkan SDM-nya dengan sistem pendidikan yang harus mengakar pada budaya Papua.Sehingga sekolah dapat menjadi tempat menyenangkan untuk mereka sehingga mau belajar. Jangan memaksakan kurikulum nasional untuk diterapkan di sekolah. Fasilitas pendukungnya harus memadai.
Gedung dan tenaga pengajar yang profesional dibidangnya. Sebagai imbalannya menghargai pengabdian para pendidik dengan upah yang layak. Bahkan harus disejahterakan. Dilakukan evaluasi dan pengawasan yang berkesinambungan untuk melihat output siswa yang dihasilkan.
Didik orang asli Papua (OAP) sebanyak- banyaknya untuk mereka menjadi guru. Ini tentu punya kelebihan tersendiri karena mereka sangat mengenal saudara-saudaranya. Saat ini Guru OAP masih sangat rendah jumlahnya. (Yulius Lopo/Bersambung)
Terima kasih karena telah membaca informasi tentang Yang Perlu Dibahas Di Seminar Bukan Lagi Soal Data Tapi Strategi Sebagai Solusi Orang Papua Menjadi Kaya . Silahkan membaca berita lainnya.

