-->

Pater Nikodemus: Tanah dan Hutan Dieksploitasi Tapi Martabat Masyarakat Tidak Dihargai

Ini adalah berita terbaru dan menarik dengan judul Pater Nikodemus: Tanah dan Hutan Dieksploitasi Tapi Martabat Masyarakat Tidak Dihargai. Silahkan baca dan menyimak artikelnya.

JAKARTA, SUARAPAPUA.com— Nikodemus Rumbayan,MSC dari Boven Digul yang selama beberapa tahun terakahir mendampingi masyarakat korban perkebunan kelapa sawit di perbatasan antara kabupaten Boven Digul dan Merauke yang menjadi wilayah pelayanannya mengatakan masyarakat adat papua martabat dan kulitnya tidak pernah dihargai saat hutan dan tanah masyarakat adat dieksploitasi dan dieksplorasi oleh investor lingkungan.

Pater Nikodemus menjelaskan, kurang lebih empat sampai lima tahun belakangan dirinya mendampingi masyarakat adat yang ada di Boven Digul. Katanya, menyesal sekali untuk mendampingi masyarakat yang menjadi korban dari investor sawit yang mengambil hak-hak masyarakat.

“Apa yang masyarakat adat ungkapkan itu menjadi tangisan gereja juga. Karena indikasi yang jelas dari kehadiran perusahaan-perusahaan ini adalah terciptanya konflik antar marga dan antar etnis,” katanya dalam pertemuan antara masyarakat enam suku korban sawit dan perkebunan bersama PGI di Jakarta, Senin (12/11/2018).

Pater Nikodemus mengatakan, peranan gereja sangat jelas, tetapi di dalam mempengaruhi kebijakan nasional pemerintah perlu dialog yang serius. Karena yang mengalami dan menjadi korban adalah masyarakat dan mereka adalah warga negara Indonesia.

“Tetapi selama mendampingi mereka saya juga dituduh sebagai OPM. Saya banyak mengalami intimidasi karena bicara dengan mereka masyarakat adat di wilayah pelayanan saya. Saya bukan orang papua, saya tidak punya tanah di papua tetapi saya punya manusia yang setingkat dengan Allah,” ungkapnya.

Maka, kata Pater Nikodemus, dalam pertemuan tersebut, dia  untuk harus terus melakukan dialog lintas agama dan budaya untuk bertemu pada sisi yang paling jelas adalah kehidupan masyarakat adat.

“Karena mereka punya budaya ini tidak ada di Jakarta. Mereka ini dieksplorasi dan diekploitasikan dengan berbagai hal yang akhirnya martabat dan kulit mereka tidak dihargai,” tegasnya.

Dalam pertemuan ini, ia menambahkan, sangat penting bicara tentang masa depan tanah papua.

“Kalau mereka tuntut hak mereka dan tanah mereka dikembalikan, kembalikanlah sesuai dengan hati nurani,” katanya.

Sementara itu, Pastor Anselmus Amo, MSC dari SKP keuskupan Merauke mengatakan, perusahaan-perusahaan yang merampas tanah di Papua yang punya adalah orang-orang yang beragama dan ada di Jakarta.

“Mereka orang beragama Katolik, Protestan, Islam, Hindu, Budha dan Konghucu yang barangkali menyumbang juga untuk kepentingan agama dan kebutuhan lain. Jangan sampai uang-uang itu hasil dari tangisan dari masyarakat adat Papua yang menjadi korban dari perampasan tanah di tanah papua. Jangan-jangan tangisan merek ini menghasilkan uang untuk bangun gereja, masjid, panti asuhan dan lainnya,” katanya.

Menurutnya, pendekatan tokoh agama maupun organisasi keagamaan ini juga sangat penting maka dalam pewartaan dan dalam bentuk apa pun.

“Kadang-kadang kami di lapangan ini stress dan kerja setengah mati tetapi di sini senyum-senyum saja. Macam tidak ada masalah. Mungkin tujuan juga salah satu untuk bawa mereka (masyarakat enam suku dari Tanah Papua) untuk datang dan berbicara di sini bukan kami yang bicara tai mereka yang alami sehingga mereka yang bicara karena kami hanya mendampingi,” jelasnya.

Kiranya, kata dia, peran organisasi saling mendukung dan menopang untuk memperhatikan saudara-saudara kami yang sedang menjadi korban perampasan tanah di Papua.

 

Pewarta: Arnold Belau


Terima kasih karena telah membaca informasi tentang Pater Nikodemus: Tanah dan Hutan Dieksploitasi Tapi Martabat Masyarakat Tidak Dihargai . Silahkan membaca berita lainnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel