Sehari Bersama Harry Tabah Thenggo Wijaya, Caleg Kabupaten Mimika
Pemuda Tampan Lulusan Australia yang Ingin Bangun Mimika
Generasi millenial saat ini menjadi fokus utama Bangsa Indonesia, termasuk Kabupaten Mimika dalam Pilpres maupun Pileg 2019 mendatang. Mengapa? Karena generasi yang lahir sesudah 1980an hingga tahun 2000 ini memiliki peran penting dalam menentukan nasib Bangsa dan Negara Indonesia pada masa mendatang melalui Pemilu 2019.
Foto: Ist./TimeX
WISUDA – Harry Tabah Thenggo Wijaya bersama salah seorang dosennya saat wisuda di Kampus International Cpllege Of Hotel Managemenet (ICHM) Adelaide South Australia.
Dalam pesta demokrasi yang dilaksanakan 17 April 2019, hadir seorang generasi millenial Timika yang ingin membangun Mimika dengan mencalonkan diri sebagai legislator Kabupaten Mimika.
Dia adalah Harry Tabah Thenggo Wijaya. Pemuda tampan kelahiran Timika, 21 Mei 1994 ini namanya masuk dalam Daftar Calon Tetap (DCT) Calon Legislatif (Caleg) Kabupaten Mimika yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Papua pada 20 September 2018.
Harry Tabah Thenggo Wijaya yang akrab disapa Harry ini memiliki keinginan besar untuk membangun tanah kelahirannya yakni Kota Timika. Hal ini ini terlihat dari perjuangan kerasnya agar ia bisa lolos bersama 459 Caleg Kabupaten Mimika lainnya yang akan bertarung di Pileg 2019 nanti.
Putra kedua dari pasangan Irwanto Tenggo Wijaya dan Yuliana Daudo ini merupakan salah satu generasi milenium yang diperkirakan akan meraup suara terbanyak dari generasi muda Timika. Ini bisa dilihat dari banyaknya kaum millenial yang menginginkan kursi DPRD Mimika ditempati generasi muda Timika.
Penggemar olahraga basket ini mengaku sangat mencintai Tanah Amungme – Bumi Kamoro, meski dirinya bukan asli Papua. Salah satu bentuk kecintaannya terhadap Papua yakni dengan cara memperkenalkan budaya Papua di Luar Negeri.
Hal ini ia lakukan saat menempuh pendidikan di bangku SMA dan Perguruan Tinggi di Autralia. Alumni SMP St. Bernardus Timika ini bersama teman-temannya ikut mempromosikan budaya Papua melalui tarian tradisional Papua saat tampil di berbagai even yang digelar di sejumlah kota besar di Negeri Kanguru itu.
Meskipun Harry bukan Orang Asli Papua (OAP), tapi anak kedua dari sembilan bersaudara ini merasa bangga menjadi orang yang lahir dan besar di Tanah Papua.
Harry menyelesaikan pendidikan dasar di SD Inpres Fak-fak, Papua Barat tahun 2006. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di SMP YPPK Santo Bernadus Timika.
Saat duduk di bangku SMP inilah, ia mulai mengenal tarian tradisional Papua, termasuk tarian pangkur sagu asal Suku Kamoro.
Di sekolah ini juga Harry bersama teman-temannya membentuk Grup Tarian Pangkur Sagu. Selain aktif di bidang seni, Harry yang memiliki bentuk tubuh ideal ini juga aktif di bidang olahraga basket dengan membentuk tim Basket Exodus Timika.
Ternyata Harry juga aktif di bidang kerohanian yakni menjadi anggota Tunggal Hati Seminari (THS-THM) dan anggota misdinar atau putra altar di Gereja Katedral Tiga Raja Timika.
THS-THM adalah sebuah aliran dari bela-diri Indonesia. Pencak silat yang bernafaskan agama Katolik ini membawa Harry menjadi seorang petangguh hebat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ia berusaha menjalani hidup sesui motta aliran ini yakni dalam Bahasa Latin disebut Pro Patria et Ecclesia yang berarti perjuangan demi bangsa dan gereja dan memiliki semboyan perjuangan yakni Fortiter in Re Suaviter in Modo yang berarti kokoh dalam pendirian namun lembut cara mencapainya. Dengan kata lain, sikap yang mau ditampakkan yaitu sikap berani, ulet dan rendah hati.
Pemuda tampan yang kurang lebih 8 tahun berada di Kota Adelaide, Australia Selatan ini, setelah menyelesaikan pendidikan SMP tahun 2009, ia melanjutkan sekolah di SMA St. Jhon’s College Darwin Australia hingga lulus tahun 2012.
Kemudian ia melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di International Collage Of Hotel Managemenet (ICHM) Adelaide South Australia dan menyelesaikan pendidikan sarjana di perguruan tinggi ini tahun 2017 lalu.
Bagi Harry, 8 tahun berada di Australia tidak hanya fokus dalam belajar formal di sekolah maupun kampus, namun ia juga bekerja sebagai karyawan swasta di sejumlah perusahaan sambil secara intens memperkenalkan tarian adat Papua di berbagai kota besar di Autralia.
Ternyata Harry tidak hanya tampil di atas pentas, namun berkat keahliannya menggeluti tarian tradisional Papua, ia bersama sejumlah temannya menjadi pelatih bagi warga Australia yang ingin mendalami tarian adat Papua.
Kegiatan yang dilakukan Harry ini ternyata mendapat perhatian dari salah satu media terbesar di Dunia yakni BBC.
“Saya dengan teman-teman pernah tampil dalam sebuah acara di Autralia dengan membawakan tarian tradisional Papua. Saat itu, diliput wartawan BBC, jadi kami masuk di koran BBC,” ucap Harry kepada Timika eXpress di kediamannya, kemarin.
Harry mengaku, saat di Australia ia juga aktif menekuni olahraga basket dengan terjun dalam iven berskala Nasional.
Baca Koran TimeX hingga Meeting di KONI Mimika
Meski sudah dewasa, Harry mengaku masih selalu diawasi orang tua terutama urusan cinta. Hal ini dilakukan orang tua, sejak ia mulai mengenal pacaran yakni saat berada di bangku Kelas 2 SMP.
Foto: Ist./TimeX
FOTO BERSAMA – Harry Tabah Thenggo Wijaya foto bersama kakak dan adik-adiknya di halaman rumah orang tuanya di Timika.
Namun, dibalik itu, perhatian khusus orang tua ini dinilai Harry sebagai tugas kedua orangtuanya dalam mendidik dan membina anak-anak mereka.
Tak hanya itu, perhatian orang tua ini membuatnya ia selalu berusaha untuk menjalani hari-harinya dengan hidup secara teratur.
Berikut cerita Harry menjalani rutinitas sejak pagi hingga malam hari.
“Setiap pagi saat bangun tidur, saya mengawali hari dengan berdoa. Saya mengucap syukur untuk segala berkat dan perlindungan Tuhan, serta memohon perlindungan Tuhan agar dapat menjalani hari-hari dengan penuh suka cita dan menjadi berkat untuk orang lain,” ucap Harry.
Setelah itu, Harry menikmati kopi sambil mengecek perkembangan pembangunan Timika maupun isu-isu terbaru lainnya yang diberitakan koran Timika eXpress.
“Setelah itu baru saya ke hotel untuk memantau semua kegiatan di sana,” tuturnya.
Harry mengaku, kadang ia dipercaya orangtuanya dalam mengurus bisnis lainnya.
“Orangtua saya biasa percayakan saya untuk mewakili mereka dalam bernegosiasi dengan rekan bisnis dari luar kota,” ujar Harry.
Setelah melakukan berbagai pekerjaan dari pagi hingga siang hari, pada sore harinya ia berolahraga dengan nge-gym dan bermain basket bersama teman-temannya.
Malam harinya ia menghabiskan waktu untuk berkumpul sambil bercerita bersama teman-teman atau keluarga di rumah atau di cafe.
“Kadang juga meeting bersama anggota Perbasi di Sekretariat KONI Mimika. Setiap hari rutinitas saya seperti itu,” tuturnya.
Olahraga Persatukan Generasi Millenial
Olahraga basket merupakan salah satu cabang olahraga yang paling digemari Harry sejak kecil. Kecintaannya akan basket ini membuatnya ia terus menggeluti olahraga yang satu ini, hingga membentuk sebuah club basket ternama di Timika “Basket Exodus Club”.
Saat kembali dari Darwin, Australia beberapa waktu lalu, ia bersama para penggila olahraga ini menyelenggarakan turnamen Basket se-Timika.
“Bupati CUP kami sudah laksanakan pada November tahun 2018 lalu,” ungkapnya.
Setelah Bupati CUP 2018, selanjutnya Harry juga aktif sebagai Manager Tim Basket Kabupaten Mimika.
Kajurda Bupati CUP ini, diikuti oleh sejumlah kabupaten diantaranya, Jayapura, Biak, Merauke dan beberapa kabupaten lainnya di Papua.
Menurut Harry, turnamen basket maupun kompetisi cabang olahraga lainnya merupakan salah satu ajang yang bertujuan mempersatukan generasi milenial di Timika.
“Di Timika ini banyak pemuda punya potensi jadi atlet basket, hanya saja perlu digali, salah satunya melalui turnamen. Karena melalui turnamen ini nantinya kita akan melihat potensi yang dimiliki anak muda Timika untuk kedepannya menjadi atlet profesional,” ucapnya.
Keluarga Jadi Penyemangat Saat Galau
Herry merupakan sosok yang sangat menghormati kedua orang tua dan kakaknya, juga sangat menyayangi adik-adiknya. Ia selalu berusaha menjadi teladan bagi ketujuh adiknya.
Bagi dia keluarga adalah segalanya, keluarga adalah mata hatinya. Di tengah keluarga ia bisa menjadi dirinya sendiri, ia bebas menumpahkan semua rasa senang maupun saat sedang galau.
Di tengah keluarga ia menemukan kehangatan yang sesungguhnya yang tidak ia temukan di tempat lain.
“Orang tua, kakak dan adik-adik saya selalau menjadi penyemangat saat saya merasa rapuh di negeri orang,” kenang Harry saat berada di Darwin.
Selama bersekolah di Asutralia ia selalu menyempatkan diri untuk menelpon keluarganya di Timika.
“Saya selalu telepon bapa dan mama dan adik-adik. Kalau sudah dengar suara mereka saya rasa lebih tenang dan semangat,” ujarnya.
(epy/ozy)
Terima kasih karena telah membaca informasi tentang Sehari Bersama Harry Tabah Thenggo Wijaya, Caleg Kabupaten Mimika . Silahkan membaca berita lainnya.